Screening dan Diskusi “Animationology”: Menuju Solo sebagai Kampung Animasi

Perkembangan dunia animasi di Indonesia saat ini berkembang pesat, yang ditandai dengan semakin banyak nama animator Indonesia yang berkancah di dunia animasi nasional bahkan internasional. Namun, sebenarnya kita kekurangan sumber daya manusia yang terlatih dan kompeten di bidang animasi. Hal itu menjadi perhatian Balai Diklat Industri Denpasar Kementrian Perindustrian dan FSRD ISI Surakarta. Keduanya mengadakan pelatihan animasi intensif dan memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan oleh industri animasi, bertajuk Pelatihan 3 In 1 Gerak Animasi 3 Dimensi yang diselenggarakan di kampus FSRD ISI Surakarta, yang dimulai dari tanggal 25 Januari hingga 23 Februari 2018.

Pelatihan tersebut, diharapkan mampu mencetak bibit-bibit animator yang kompeten dan terlatih. Para peserta terdiri dari lulusan SMK, mahasiswa hingga lulusan universitas di Jateng, Jatim dan DIY. Asal peserta pun bervariasi, selain berasal dari wilayah Solo Raya, terdapat pula peserta yang berasal dari Sleman, Malang bahkan hingga Sumenep. Selama kurang lebih 1 bulan, para peserta tersebut dilatih untuk melakukan proses animasi dengan baik dan benar. Tahapan pembuatan gerak pada animasi 3 dimensi cukuplah panjang. Tahapan pertama adalah referensi, dimana peserta diwajibkan untuk mencari referensi baik video maupun foto. Selanjutnya, berdasarkan referensi tersebut, peserta harus memasuki tahapan drawing plan. Pada tahapan ini, para peserta harus menggambarkan rangkaian sketsa dari hasil analisa referensi. Setelah plan tersebut disetujui, selanjutnya para peserta harus mempelajari rig atau karakter yang akan digerakkan serta membuat selection tool dari rig tersebut. Langkah ini disebut dengan setting project. Setelah para peserta cukup paham dengan rig yang akan mereka gerakan, mereka akan masuk pada tahap blocking yaitu penempatan kamera, membuat keypose dan penentuan timing. Yang terakhir adalah proses polishing dimana peserta harus memoles gerakan-gerakan yang mereka animasikan sehingga menjadi lebih halus dan terasa nyata. Tentu saja, proses-proses di atas harus sesuai dengan 12 prinsip animasi yang merupakan kaidah utama dalam proses menggerakan karakter animasi.

Setelah proses pelatihan berakhir, para peserta memamerkan hasil proyek terakhirnya dalam bentuk screening clip 3 dimensi. Selain itu, diadakan acara diskusi dan sharing dengan tema “Menuju Kota Solo sebagai Kampung Animasi” di Playground Café Solo pada tanggal 24 Februari 2018. Kegiatan dibuka oleh Dekan FSRD (Joko Budiwiyanto) dan dihadiri oleh Kaprodi Televisi dan Film (Titus Supono Adji) dan undangan dari SMKN 6 Surakarta.Diskusi sebagai forum komunikasi dan silaturahmi antar pelaku animasi baik industri maupun akademisi tersebut bertujuan untuk menyamakan persepsi dan memantapkan mimpi mewujudkan Kota Solo sebagai Kampung Animasi, agar Solo tidak hanya dikenal dengan kampong batik saja. Diskusi tersebut menghadirkan pembicara yang sudah malang-melintang di dunia industri animasi nasional yaitu Yudhatama dari Manimonki Studio dan Doni Purwosulistio dari 8 Mata Studio, sedangkan dari akademisi, turut berbicara pula Ranang AS dari FSRD ISI Surakarta. Dalam diskusi itu Ranang AS melontarkan konsep Kampung Animasi untuk dikembangkan di Kota Solo. Pameran poster animasi sudah bisa disaksikan mulai pukul 12.00 WIB, sedangkan screening film animasi dilaksankan pukul 19.00 WIB dan dilanjutkan dengan diskusi pada pukul 20.00 WIB hingga selesai. Screening tersebut jiga ditayangkan 2 film animasi karya mahasiswa Prodi Televisi dan Film berjudul Si Joe dan Seribu Satu Candi, serta beberapa film animasi karya anggota komunitas ANSORA (Animasi Solo Raya).