Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta terus memperkuat kiprahnya dalam pengembangan pendidikan seni berbasis riset dan pelestarian budaya. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan institusional ke Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen, Jumat (23/1/2026), sebagai langkah awal penjajakan kerja sama dan kolaborasi lintas disiplin.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka penjajakan kerja sama dan kolaborasi. Rombongan FSRD dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Nur Rahmat Ardi Candra Dwi Atmaja dan diterima langsung oleh Penanggung Jawab Museum Klaster Krikilan Marlia Yulianti Rosyidah di kawasan situs Sangiran.
“Pertemuan ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara institusi pendidikan seni dan lembaga pelestarian warisan budaya dunia. Diskusi berfokus pada peluang kolaborasi di bidang edukasi, riset kreatif, pengembangan program mahasiswa, serta pemanfaatan kekayaan narasi prasejarah sebagai sumber inspirasi karya seni dan desain,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Candra mengatakan Sangiran menyimpan potensi besar sebagai laboratorium visual dan konseptual bagi mahasiswa.“Kami melihat Sangiran bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang belajar terbuka yang kaya inspirasi. Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang proyek kreatif, pameran, hingga riset berbasis seni yang melibatkan mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, Marlia menegaskan komitmen museum untuk menjangkau generasi muda melalui pendekatan kreatif. “Museum tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana generasi sekarang memaknainya kembali. Kehadiran FSRD membawa perspektif baru yang segar, terutama dalam mengemas edukasi prasejarah lewat pendekatan visual dan artistik,” jelasnya.
Ia berharap kunjungan ini menjadi kerja sama berkelanjutan yang menghadirkan program kolaboratif, mulai dari workshop, pameran, hingga pengembangan media edukasi kreatif berbasis koleksi dan narasi Museum Manusia Purba Sangiran.
“Sinergi ini sekaligus memperkuat peran seni dan desain dalam mendukung pelestarian serta pemaknaan warisan budaya dunia secara lebih kontekstual dan menarik bagi publik luas,” katanya.
(fsrd)



