Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, FSRD ISI Surakarta yang tergabung dalam Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam), ikut berkontribusi dalam perancangan Buku Layanan Solo Technopark sebagai media informasi layanan di UPTD Kawasan Sains dan Teknologi Solo Technopark.
Dua mahasiswa yang terlibat dalam proyek tersebut yakni Muhammad Alifi Krisna Pamungkas dan Al Nur Rochim Meyrista Putra Sadewa. Keduanya mengikuti Program Mahasiswa Berdampak FSRD ISI Surakarta Tahun 2026 melalui Skema Magang di Solo Technopark dengan pendampingan dosen pembimbing lapangan Basnendar Herry Prilosadoso dan Isnawati Muslihah serta bimbingan mentor lapangan Agus Jatmiko.
Dalam pelaksanaannya skim magang selama 4 bulan yang dimulai dari 11 Mei hingga 11 September 2026. Muhammad Alifi Krisna Pamungkas dan Al Nur Rochim Meyrista Putra Sadewa bertanggung jawab merancang desain Buku Layanan Solo Technopark dengan mengolah berbagai data dan informasi ke dalam sistem komunikasi visual melalui penyusunan struktur konten, hierarki informasi, serta perancangan tata letak (layout) yang informatif dan komunikatif.
Buku Layanan Solo Technopark memuat informasi mengenai profil institusi, fasilitas, ruang pertemuan, ruang pelatihan, laboratorium, layanan inkubasi bisnis, program pengembangan talenta, serta informasi layanan lainnya yang tersedia di Solo Technopark. Buku tersebut dirancang sebagai media informasi yang diharapkan mampu memudahkan masyarakat, dunia industri, akademisi, instansi pemerintah, maupun calon pengguna layanan dalam memperoleh informasi secara lebih lengkap melalui satu media yang terintegrasi.
Perancangan buku dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan komunikasi informasi, karakter identitas Solo Technopark, serta kemudahan pembaca dalam memperoleh informasi secara efektif. Saat ini, Buku Layanan Solo Technopark masih berada dalam tahap perancangan sebagai media informasi yang akan diterbitkan dalam bentuk buku cetak.
Melalui pendekatan Desain Komunikasi Visual, berbagai informasi disusun secara sistematis dengan mengedepankan hierarki visual, keterbacaan, dan konsistensi desain sehingga mampu menghadirkan media informasi yang profesional, komunikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Penyusunan Buku Layanan Solo Technopark dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan media informasi yang mampu menghimpun berbagai layanan, fasilitas, dan program STP dalam satu media yang terstruktur. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat, dunia industri, akademisi, instansi pemerintah, maupun calon pengguna layanan dalam memperoleh informasi secara lebih efektif dan konsisten.
Muhammad Alifi Krisna Pamungkas menjelaskan keterlibatannya dalam proyek tersebut menjadi pengalaman berharga untuk menerapkan kompetensi Desain Komunikasi Visual pada proyek nyata. “Melalui proyek ini kami belajar bagaimana mengolah berbagai data dan informasi menjadi media komunikasi visual yang informatif, terstruktur, dan mudah dipahami. Perancangan Buku Layanan Solo Technopark memberikan pengalaman bagi kami untuk menerapkan proses desain secara nyata dalam menjawab kebutuhan komunikasi sebuah institusi,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari pihak Solo Technopark, Agus Jatmiko selaku Kepala Divisi IT menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa memberikan kontribusi positif dalam pengembangan media informasi institusi. Menurutnya, proses perancangan Buku Layanan Solo Technopark menjadi langkah yang mendukung penyampaian informasi mengenai berbagai layanan dan fasilitas Solo Technopark kepada masyarakat melalui media yang lebih informatif dan komunikatif.
Sementara itu, Isnawati Muslihah menjelaskan bahwa “Sebagai pembimbing lapangan, saya melihat proyek ini menjadi ruang belajar yang tepat bagi mahasiswa untuk memahami bahwa Desain Komunikasi Visual bukan sekadar menyusun elemen agar terlihat menarik, tetapi juga bagaimana mengubah data dan informasi institusi yang kompleks menjadi sebuah paket komunikasi yang runtut, konsisten, dan mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.
Dalam perancangan Buku Layanan Solo Technopark ini, mahasiswa dituntut untuk menjaga konsistensi tata letak (layout) sekaligus membangun identitas visual yang jelas pada setiap halaman, mulai dari profil institusi hingga rincian program dan fasilitas. Pengalaman ini penting karena melatih mahasiswa untuk berpikir strategis, tidak hanya sebagai perancang visual, tetapi juga sebagai penyusun pesan yang efektif untuk mendukung komunikasi sebuah institusi” ujarnya.
(fsrd/bhp)




