Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) bersama Institut Seni Indonesia meluncurkan program inovatif digitalisasi batik.Program ini bertujuan menjembatani kearifan tradisional dengan teknologi kontemporer, bagian dari skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) tahun 2025.
Program diketuai Dr. Aan Sudarwanto, M.Sn sekaligus melibatkan tim ahli dari berbagai bidang.Di antaranya, Danissa Dyah Oktaviani (Pendampingan Desain Digital), Rahayu Adi Prabowo (Managerial Pelatihan), Toyibah Kusumawati dari ISI Yogyakarta (Komparasi Data Desain). Program ini juga melibatkan tiga mahasiswa ISI Surakarta sebagai fasilitator: Saifudin Aulya Akhsan, Najwa Zarine Ardelia, dan Dymas Syafaat Syarif Widodo.
“Program ini hadir sebagai solusi transformatif yang tidak menggantikan tradisi, melainkan memberdayakannya dalam format relevan untuk era digital,” ungkap Dr. Aan Sudarwanto, Ketua Program dari ISI Surakarta.
Diketahui, Kampung Batik Laweyan, sebagai sentra batik tertua di Indonesia yang telah eksis sejak abad ke-14, kini menghadapi tantangan besar di era digital.Mayoritas dari 80 unit usaha batik di kawasan ini masih mengandalkan metode sketsa manual konvensional. Di mana 85 persen pengrajin membutuhkan waktu tiga hingga empat minggu untuk mengembangkan satu motif baru.
Keunggulan utama program ini adalah penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Meja Desain Digital Terintegrasi. Inovasi ini menggabungkan workspace ergonomis dengan sistem komputer built-in yang dirancang khusus untuk digitalisasi motif batik tradisional. TTG ini memadukan hardware, software desain (Adobe Illustrator dan CorelDraw), serta metodologi pembelajaran dalam satu ekosistem terpadu. Dengan teknologi ini, waktu pengembangan desain dapat dipangkas drastis dari biasanya tiga hingga empat minggu menjadi hanya tiga hingga lima hari per motif.
Program yang berlangsung selama tiga bulan ini mencakup berbagai kegiatan pelatihan intensif yakni literasi digital bertahap, digitalisasi desain, pemasaran digital, dan mentoring antargenerasi. Program yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini menargetkan peningkatan signifikan dalam berbagai aspek.
Di antaranya, peserta menguasai digitalisasi motif dasar, peningkatan variasi produk, unit usaha memiliki platform penjualan online dan target peningkatan revenue 40-60% dalam 12 bulan pasca implementasi
“Ekspor batik Indonesia pada Januari-September 2024 mencapai USD 11,52 juta. Dengan digitalisasi, potensi ini bisa dioptimalkan lebih jauh,” tambah Dr. Aan Sudarwanto.
Untuk menjamin keberlanjutan, program membentuk kerjasama dengan institusi pendidikan dan pemerintah daerah juga diperkuat untuk memastikan transfer knowledge berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar modernisasi teknologi, melainkan revitalisasi budaya yang mengangkat martabat pengrajin tradisional menjadi artisan digital yang mampu bersaing di pasar global,” tegas Dr. Aan Sudarwanto.
Program ini diharapkan menjadi model replikasi untuk 200 sentra batik lainnya di 11 provinsi Indonesia. Kemudian, berkontribusi pada pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif nasional yang menyumbang 7,44 persen terhadap PDB Indonesia.
Kampung Batik Laweyan bukan hanya sentra produksi, tetapi juga destinasi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Dengan program digitalisasi ini, pengalaman wisata akan semakin diperkaya melalui dokumentasi visual berkualitas tinggi dan konten digital interaktif.
(aan/fsrd)



