Tim Riset DKV ISI Surakarta Garap Infografis Kampoeng Batik Laweyan, Upaya Pelestarian Warisan Budaya Berbasis Digital

Tanggal

Kampoeng Batik Laweyan dikenal sebagai kawasan cagar budaya dan sentra batik tertua di Indonesia yang menyimpan nilai historis tinggi sejak abad ke-14 Masehi. Namun, di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, informasi mengenai kawasan ini kerap disajikan secara konvensional sehingga kurang menarik minat generasi muda.

 

Melalui pendekatan research-through-design, Tim Riset DKV FSRD ISI Surakarta merancang lima prototipe infografis berbasis visual storytelling yang merepresentasikan bangunan-bangunan ikonik di Laweyan, meliputi Ndalem Djimatan, Bunker Sentono, Butulan, Masjid Laweyan, dan Langgar Merdeka. Media infografis ini dirancang secara komprehensif untuk menyederhanakan data sejarah yang kompleks menjadi sajian visual yang edukatif, komunikatif, dan estetika.

Dalam upaya merestorasi memori kolektif masyarakat serta memperkuat interpretasi warisan budaya (heritage interpretation) di era digital, Tim Peneliti dari Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD Institut Seni Indonesia Surakarta menyelenggarakan acara Launching dan Penyerahan Infografis. Hasil rancangan ini sebagai luaran Penelitian Dasar yang bertajuk Eksplorasi Visual Storytelling Budaya Melalui Infografis sebagai Pendekatan Heritage Interpretation dalam Mengonstruksi Memori Kolektif Kampoeng Batik Laweyan.

 

Acara puncak yang diisi dengan penyerahan karya infografis secara simbolis ini sukses digelar di situs cagar budaya bersejarah, Ndalem Djimatan, Laweyan, Surakarta. Penelitian dasar yang didanai melalui DIPA ISI Surakarta tahun 2026 ini diketuai oleh Indriati Suci Pravitasari dengan melibatkan dosen anggota Brilindra Pandanwangi, serta sejumlah mahasiswa. Kegiatan ini juga menggandeng mitra strategis dari Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.

Ketua tim peneliti, Indriati Suci Pravitasari menyampaikan bahwa peluncuran media infografis ini tidak hanya bertujuan sebagai dokumentasi visual semata, melainkan sebagai upaya strategis dalam membangun kembali keterikatan emosional dan memori kolektif masyarakat terhadap identitas budaya lokal.
“Infografis ini dirancang menggunakan prinsip heritage interpretation agar audiens, khususnya generasi muda, tidak hanya menyerap fakta sejarah secara tekstual, tetapi juga mampu merasakan nilai filosofis dan resonansi emosional dari setiap artefak arsitektur di Kampoeng Batik Laweyan,” ujarnya.

 

Acara launching yang dilangsungkan pada 2 September 2026 di Ndalem Djimatan ini mendapat sambutan hangat dari para tokoh budaya setempat, penggiat sejarah, warga Laweyan, serta para akademisi.

Sedangkan menurut Alpha Febela Priyatmono selaku Ketua FPKBL mengungkapkan melalui kegiatan ini, media infografis diserahkan langsung kepada pihak pengelola dan perwakilan masyarakat sebagai sarana penunjang edukasi wisata sejarah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Dengan terlaksananya program ini, Tim Riset DKV ISI Surakarta berharap model komunikasi visual budaya yang dikembangkan dapat memberikan kontribusi nyata baik secara teoretis bagi perkembangan keilmuan DKV maupun secara praktis sebagai alternatif strategi pelestarian warisan budaya Nusantara yang berkelanjutan.

 

(fsrd/her)